mimpi dan R E A L I T A
Bagaimana kalau ternyata dunia yang kita kira nyata adalah mimpi dari tuhan yang tertidur? Begitulah cerita yang disuguhkan oleh Calvin Michael Sidjaja dalam novel surealisnya: JUKSTAPOSISI. Novel yang berhasil meraih juara 3 Sayembara Novel Dewan Kesenian jakarta 2006.
Cerita yang menurut gue kalau dipikir-pikir merefleksikan kehidupan kita sebagai manusia yang hidup di dunia ini. Disini diceritakan bahwa tuhan terbuai oleh mimpi dan tidak mau terbangun untuk menghadapi kehidupan nyata para tuhan yang sebenarnya. Sehingga mereka menipu diri mereka sendiri, menjadi ‘manusia’ di dunia yang diciptakan oleh ‘mimpi’ dan melupakan kalau ternyata mereka adalah ‘tuhan’. Sehingga di dalam mimpi para tuhan tertidur dan bermimpi. Mereka tidak mampu membedakan yang mana mimpi yang mana kehidupan nyata. Terbuai oleh mimpi dan tidak mau bangun untuk menghadapi kehidupan sebagai tuhan.
Inilah sebagian cuplikan novelnya:
“Ini gila… ini gila…,” kata Noah tak henti-hentinya mengucapkan dua kata itu sambil menyusuri jalan polis yang gelap. Polis yang tampaknya tak pernah memiliki waktu selain malam. Di polis itu, peti mati berjejer dimana-mana. Di sudut jalan. Di rumah, di taman.
Ada apa dengan kota ini? tanya Noah kepada dirinya sendiri. Kenapa semua orang disini mati?
“Mereka tidak mati,” kata sosok yang berdiri di sebelahnya.
“Mereka sama sepertimu, tidur. Mereka tertidur, bermimpi menjadi manusia.”
“Mereka siapa?,” kejar Noah.
“Di dalam bahasa mimpi itu… mereka memanggil dirinya sendiri ‘tuhan’.”
“…tuhan?”
“Ya, tuhan. Kita semua di sini adalah yang diberi nama tuhan oleh manusia. Kita semua saling bermimpi satu sama lain. Manusia bermimpi mengenai tuhan dan tuhan bermimpi menjadi manusia. Itu sebabnya mereka tidak pernah bertemu.”
“Tapi… kalau begitu… yang mana yang memimpikan siapa? Siapa yang lebih dulu bermimpi? tuhan atau manusia?” tanya Noah.
Sosok itu menatap satu peti mati.
“Tuhan tentu. Namun mereka semua terbuai oleh mimpi, mereka tak mau bangun lagi dan malah, memimpikan diri sendiri saat mereka bermimpi menjadi manusia.”
Tuhan yang tertidur dan bermimpi menjadi manusia…
Gue tercenung dan merasa tuhan-tuhan itu sama seperti kita para manusia. Kita menghadapi kehidupan yang menjemukan dan melelahkan. Sampai-sampai kita berkata ‘ini cuman mimpi buruk’ dan menyangkal semua yang terjadi terhadap kita.
Berharap akan sesuatu yang baik terjadi. Maka kita mulai bermimpi untuk kehidupan yang lebih baik. Dalam imaji mimpi kita menampilkan kehidupan kita semuanya baik dan berjalan lancar. Padahal kita tahu sama tahu bahwa tidak mungkin selancar hidup kita. Karena kalau kita mengalami suatu hal yang buruk, kita mengatakan ‘ini cuman mimpi buruk’.
Dalam Jukstaposisi ini diceritakan bahwa tuhan berusaha mewujudkan mimpi itu menjadi kenyataan dan bukan sekadar mimpi saja. Mungkin sebaiknya itu yang harus kita lakukan. Daripada mengkhayal akan mimpi yang tidak pasti itu, lebih baik mewujudkan mimpi tersebut.
Sometimes, ada kalanya gue merasa lebih baik gue terus menutup mata dan tertidur. Hidup dalam mimpi terasa lebih ringan dan membebaskan daripada menjejakan kaki di kehidupan nyata. Di saat semua masalah terasa banyak dan memenuhi otak gue. Gue memutuskan untuk menutup mata dan kabur ke dunia mimpi gue. Gue sempat berpikir lebih baik gue tinggal disini dan tidak bangun saja.
Tapi gue tahu. Menutup mata adalah tindakan apatis. Diam tidaklah selalu emas. Terkadang melangkah ke depan walaupun kau tahu akan jatuh lebih baik daripada diam saja dan tidak melakukan perubahan apa-apa. Sesakit apapun, seburuk apapun, kehidupan ialah satu hal yang harus dijalani sebaik-baiknya.
Ingat: satu langkah ke depan untuk sebuah perubahan lebih berarti daripada diam.
[Ono twäer vashäúán Itwäshä áv Létwävëh]
[Kenapa lebih nikmat bermimpi ketimbang menikmati hidup ini?]
April 1st, 2008 at 8:42 pm
review yang bagus sekali. Terima kasih, saya senang ada yang menangkap maksud saya.
Menurut saya, manusia baik sadar dan tak sadar akan menutup dirinya pada saat ada masalah, namun menutup diri bukanlah solusi, karena dunia akan terus bergerak tak menunggu kita. Tentunya kita tidak boleh terbuai oleh mimpi dan perasaan nyaman karena mau menyangkal masalah kita.
Saya masukin post ini ke link review di blog saya yah, dan salam kenal.